Piet Klinik Hewan 24 Jam - (http://www.pietklinik.com)

10 Agustus 2009 - 07:07
Demodecosis Pada Anjing
Drh. Anita Bunawan

Demodecosis merupakan salah satu jenis penyakit kulit pada anjing yang disebabkan oleh parasit tungau (mite) Demodex sp. Parasit ini berukuran sangat kecil yaitu sekitar 0.2-0.4 mm sehingga hanya dapat dilihat di bawah mikroskop menggunakan metode skin scrap. Demodex sebenarnya merupakan fauna normal di tubuh anjing yang hidup pada folikel rambut maupun kelenjar sebaceous hewan dengan memakan sebum serta debris (runtuhan sel) epidermis. Peningkatan populasi parasit ini secara berlebihan berdampak pada terjadinya gangguan pada kulit hewan dan biasa dikenal dengan istilah demodecosis.

Siklus hidup demodex mulai dari telur-larva-nimfa-dewasa berlangsung dalam jangka waktu 20-35 hari. Sedangkan transmisi demodex umumnya mulai terjadi melalui kontak langsung dari induk pada anak anjing terutama di minggu-minggu pertama kelahiran. Sebagai fauna normal, demodex hanya menimbulkan gangguan pada kulit hewan saat terjadi overpopulasi yang biasanya dikaitkan dengan kondisi kekebalan tubuh yang rendah (imunosupresi) pada hewan.

Demodecosis yang banyak ditemui pada anak anjing umur 3-6 bulan umumnya berawal dari lesi local berupa kebotakan (alopecia) di daerah muka karena area ini yang paling sering kontak dengan induk. Demodecosis lokal lebih dipengaruhi oleh kondisi stress dan supresi imun lokal di area lesi yang terlihat serta dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan seiring dengan perkembangan sistem kekebalan tubuh hewan. Namun apabila lesi lokal  tampak persisten bahkan meluas dan tidak sembuh dalam waktu 4-6 minggu tanpa pengobatan maka dapat berkembang menjadi demodecosis general. Hal ini seringkali dikaitkan dengan kondisi  kurangnya sel imun spesifik pada hewan sehingga tidak mampu menekan laju perkembangan populasi parasit.

Pada anjing dewasa terjadinya demodecosis dapat mengindikasikan adanya penyakit dalam yang berdampak pada gangguan sistem imun hewan, diantaranya kanker, penyakit liver, ginjal maupun ketidakseimbangan hormonal. Hewan yang sedang dalam terapi menggunakan obat imunosupresif seperti kortikosteroid juga dapat berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh hewan yang akhirnya dapat memicu timbulnya demodecosis.

Hewan  yang mengalami demodecosis general sebaiknya tidak digunakan untuk breeding karena cenderung memiliki predisposisi genetik dengan sensitivitas terhadap demodex yang sama terhadap turunannya. Secara genetic pula ada beberapa jenis ras anjing yang cenderung lebih sensitive terhadap resiko demodecosis yaitu diantaranya pada west highland white terrier, chinese shar pei, scottish terrier,english bulldog, boston terrier, great dane, doberman pinscher serta alaskan malamute.

Selain pengaruh genetik, manajemen stress pada anjing juga berperan penting terhadap perkembangan demodecosis dan berikut beberapa tips untuk mengurangi faktor stress pada anjing tersebut, diantaranya :

  1. Anjing betina yang mengalami kecenderungan demodecosis general sebaiknya disteril. Hal ini untuk mengurangi tingkat stress oleh perubahan hormonal yang dialami saat estrus dan hamil.
  2. Pemberian dog food berkualitas baik untuk mengurangi gangguan penyakit yang disebabkan oleh ketidaksembangan faktor nutrisi.
  3. Menjaga kulit hewan bebas dari parasit, untuk mengurangi tingkat stress karena iritan maupun kerusakan kulit yang dipelopori oleh kutu, caplak, pinjal maupun jamur. 
  4. Vaksinasi rutin untuk mengurangi peluang terkena penyakit menular yang dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh hewan.

Gangguan pada kulit yang disebabkan oleh demodecosis diantaranya berupa alopecia (kebotakan), kemerahan dan berkerak. Sedangkan pada tahap lebih lanjut demodecosis general dapat disertai peradangan dan infeksi sekunder oleh bakteri. Lapisan kulit di daerah yang mengalami demodecosis juga terasa lebih berminyak saat disentuh. Secara kasat mata memang agak sulit untuk membedakan gangguan kulit yang disebabkan oleh demodex dengan parasit seperti scabies maupun karena faktor penyakit lain, sehingga ada baiknya anda memeriksakan hewan anda ke dokter hewan bila menemukan kelainan pada kulit dan bulu anjing anda.

Penanganan terhadap demodecosis tergantung dari tingkat keparahan dan jenis lesi. Treatment terhadap demodec memerlukan waktu yang panjang dan perlu dimonitor secara berkala selama 4-6 minggu selama pengobatan untuk memastikan status populasi demodec kembali normal. Pemeriksaan skin scrap sebaiknya dilakukan dengan interval waktu 2 minggu, dimana bila tidak ditemukan demodec minimal dalam 2 kali pemeriksaan skin scrap, maka hewan dapat dikatakan sembuh dan pengobatan dapat dihentikan. Namun demikian perlu diingat bahwa demodec sebagai fauna normal umumnya tetap memiliki kemungkinan hidup pada hewan meskipun dalam jumlah kecil dimana kondisi kesehatan hewan juga turut mempengaruhi respon kesembuhan dan populasi demodec, karenanya gangguan penyakit ini dapat muncul kembali terutama saat hewan mengalami immunodefisiensi.

Treatment terhadap demodecosis lokal diantaranya :

  1. Pemberian salep yang mengandung 1% rotenone (Goodwinol ointment) maupun gel benzoyl peroxide 5 % yang diaplikasikan sehari sekali setiap hari selama 1-3 minggu.
  2. Mandi dengan shampoo yang mengandung benzoyl peroxide secara regular minimal seminggu sekali.
  3. Pemberian amitraz yang telah diencerkan dengan konsentrasi 0.1% pada area alopecia sehari sekali selama 2 minggu.

Sedangkan treatment terhadap demodecosis general diantaranya :

  1. Mandi dengan amitraz dengan konsentrasi 0.025% 2 kali seminggu. Adapun sebaiknya sebelum menggunakan amitraz, hewan terlebih dahulu dimandikan dengan shampoo yang mengandung benzoyl peroxide untuk mengurangi minyak dan runtuhan sel kulit mati. Sedangkan bagi hewan berbulu panjang, perlu dicukur terlebih dahulu agar obat lebih mudah meresap ke dalam kulit.
  2. Pemberian ivermectin oral 200 μg/kg sehari sekali selama 2-4 minggu. Sayangnya obat ini kontraindikasi untuk anjing jenis collie, shelties, australian shepherds, old english sheepdogs maupun hewan yang positif menderita heartworm karena faktor sensitivitasnya. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh pemberian ivermectin diantaranya salivasi dan inkoordinasi sehingga penggunannya harus sesuai petunjuk dan pengawasan dokter hewan.
  3. Pilihan obat lainnya selain ivermectin yaitu doramectin 1% injeksi yang diaplikasikan selang 2 minggu.
  4. Pemberian antibiotik bila terjadi infeksi sekunder oleh bakteri (pyoderma).
  5. Pemberian antihistamin bila terjadi kegatalan karena iritasi demodec pada kulit hewan.

Perlu diingat karena demodex berhubungan erat dengan kondisi imunodefisiensi, maka hewan sebaiknya tidak diberikan pengobatan menggunakan kortikosteroid karena bersifat imunosupresan sehingga dapat memperparah penyakit demodecosis. Hewan juga memerlukan asupan yang berkualitas dengan komponen gizi yang seimbang terutama untuk menjaga kesehatan kulit dan bulunya.

 

 

[Piet Klinik Hewan 24 Jam]

Kembali