Piet Klinik Hewan 24 Jam Piet Klinik Hewan 24 Jam Piet Klinik Hewan 24 Jam Piet Klinik Hewan 24 Jam
Piet Klinik Hewan 24 Jam Piet Klinik Hewan 24 Jam Piet Klinik Hewan 24 Jam Piet Klinik Hewan 24 Jam
Piet Klinik Hewan 24 Jam
Selamat Pagi...Rabu, 03 September 2014 - (UTC+7)
Piet Klinik Hewan 24 Jam
 
 
 
 
Piet Pet Shop
 

Piet Pet Shop

 
 
Yang Baru
 
T-Shirts Pencil Draw MyDog
11 November 2011 - 01:04
[Piet Pet Shop]
PEMBERIAN OBAT CACING PADA KUCING DAN ANJING
31 Oktober 2011 - 21:11
[Kesehatan]
Apa Itu Distemper ?
28 Oktober 2011 - 22:28
[Kesehatan]
Piet Klinik Hewan 24 Jam Pindah Lokasi
10 Januari 2011 - 18:35
[Kegiatan]
Cherry Eye
31 Desember 2010 - 11:20
[]
Mengunjungi Salon Hewan Piet Pet Shop (part 3)
09 November 2010 - 09:45
[Salon dan Grooming]
Mengunjungi Salon Hewan Piet Pet Shop (part 2)
09 November 2010 - 09:30
[Salon dan Grooming]
Mengunjungi Salon Hewan Piet Pet Shop (part 1)
09 November 2010 - 09:24
[Salon dan Grooming]
Russian Blue Cat
09 November 2010 - 06:05
[Pengenalan Ras Anjing dan Kucing]
DAFTAR PRODUK DOG FOOD
19 Oktober 2010 - 08:38
[Dog Food]
 
 
 
pk icon  Kesehatan
Beranda : Artikel : Kesehatan

27 Juni 2009 - 19:11  
Mengenal Penyebab Diare Pada Anjing    

drh. Anita Bunawan

Diare termasuk salah satu gangguan saluran pencernaan yang paling sering ditemui pemilik hewan. Diare sendiri bukanlah merupakan penyakit melainkan suatu gejala yang mengiringi adanya penyakit maupun gangguan pada tubuh. Normalnya, anjing dewasa defekasi sekali sehari bila diberi makan satu sampai dua kali sehari. Perubahan baik berupa peningkatan frekuensi defekasi, volume maupun konsistensi feses mulai dari yang lembek hingga cair serta dapat disertai dengan ada tidaknya perubahan warna feses merupakan gejala umum diare. Meskipun diare mudah dikenali, namun untuk mengetahui penyebab dan penanganannya cukup kompleks karena banyak faktor yang mempengaruhi eksistensi fungsi saluran pencernaan tersebut.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan diare pada anjing diantaranya :

1.      Diet

Diare yang disebabkan faktor diet ini dapat berupa penggantian makanan secara mendadak, overeating (porsi pemberian makanan terlalu banyak), intoleransi makanan, adanya benda asing yang tidak dapat tercerna misalnya rumput maupun sumber makanan yang tidak bersih misalnya dari sampah.

Penggantian makanan secara mendadak dapat menyebabkan gangguan keseimbangan flora normal dalam saluran intestinal sehingga sebaiknya penggantian makanan perlu dilakukan secara bertahap dengan mencampur bagian makanan lama dengan makanan yang baru cukup dalam jangka waktu 1 minggu agar flora normal intestin dapat beradaptasi.

Anjing juga dapat mengalami intoleransi terhadap suatu zat maupun unsur kandungan tertentu dari makanan yang juga dipengaruhi oleh perbedaan sensitivitas individual. Salah satunya yang sering terjadi terutama pada anak anjing adalah lactose intolerance dimana laktosa susu tidak dapat dicerna karena kekurangan enzyme lactase. Akibatnya terjadi penumpukan laktosa di usus dan memicu fermentasi mikroba berlebih yang berdampak pada diare osmotik. Penanganan yang dapat dilakukan adalah memberikan susu dengan kandungan laktosa yang rendah. Selain itu anjing juga dapat mengalami intoleransi terhadap makanan yang spicy (banyak bumbu) dan berminyak yang biasanya terdapat pada jenis makanan rumahan.

Anjing yang memakan makanan yang kurang bersih seperti dari sampah selain dapat mengakibatkan diare juga kadang disertai gejala muntah. Hal ini dikarenakan kemungkinan bakteri pembusuk maupun toksin dalam makanan sampah yang dapat mengiritasi mukosa saluran cerna.

Kebiasaan anjing menggigit benda-benda bertekstur keras maupun berserat yang bukan termasuk makanan lebih dikarenakan oleh behaviour mereka yang memang "menyukai" hal tersebut. Bahkan anjing yang mengalami gangguan di perut dan merasa tidak nyaman umumnya terdorong untuk memakan sesuatu yang berserat seperti rumput yang tak lain merupakan salah satu cara mengalokasikan stress yang terjadi oleh rasa tidak nyaman tersebut. Namun rumput bersifat mengiritasi dan tidak dapat tercerna, sehingga dampaknya anjing dapat muntah dan lebih lanjut efeknya yang mengiritasi saluran cerna dapat menimbulkan diare.

2.      Parasit intestinal

Parasit intestinal pada anjing diantaranya cacing whipworms (cacing pipih), hookworms (cacing tambang), roundworms (cacing gilig). Diare yang terjadi disebabkan oleh obstruksi dan perlukaan mekanis oleh infestasi cacing pada mukosa epitel usus dan kadang disertai dengan darah. Pada infestasi yang parah dalam jangka panjang cacing juga dapat menimbulkan anemia, penurunan bobot badan, bulu kusam, daya tahan tubuh menurun, bahkan perforasi (lubang) dinding usus. Untuk itu sebaiknya anjing diberikan obat cacing secara berkala setiap 3 bulan sekali untuk pencegahan.

3.      Infeksi bakteri dan protozoa

Protozoa menimbulkan kerusakan sel-sel epitel usus karena berproliferasi secara intraseluler dan diantaranya yang sering menyerang terutama pada anak anjing adalah giardia dan coccidia. Sedangkan penyebab diare oleh bakteri diantaranya E. coli, salmonella dan campylobacter. Keistimewaan bakteri selain menyebabkan kerusakan sel epitel usus sehingga terjadi malabsorpsi, juga dapat menyebabkan septikemia (peredaran bakteri patogen dalam pembuluh darah) serta dapat menghasilkan enterotoksin sebagai hasil buangan metabolismenya. Pada umumnya penularan bakteri maupun protozoa dapat terjadi melalui makanan yang tercemar disamping itu juga bersifat zoonosis (dapat menular pada manusia).

4.      Infeksi virus

Yang paling sering ditemui dan biasanya bersifat fatal pada anak anjing yang belum divaksinasi adalah parvovirus dan coronavirus. Infeksi oleh virus ini menyebabkan diare berdarah akut disertai muntah dan dehidrasi parah. Berbeda dengan infeksi lain, virus bersifat contagious (sangat menular) dengan tingkat morbiditas (virulensi) dan mortalitas (kematian) tinggi terutama pada anak anjing. Pencegahan hanyalah dengan vaksinasi yang dapat dimulai saat anak anjing memasuki usia 6-8 minggu.

5.        Obat maupun toksin

Obat tertentu dapat menimbulkan efek samping diare, diantaranya NSAID (non steroidal anti-inflammatory agent) seperti aspirin, anthelmentik (obat cacing), obat antikanker serta beberapa jenis antibiotik tergantung sensitivitas individual. Untuk toksin umumnya tidak hanya menimbulkan diare tapi juga muntah, bahkan untuk toksin golongan organophospate (insektisida) dapat disertai dengan gejala syaraf (kejang).

6.        Pancreatitis

Pankreas yang mengalami peradangan dapat menyebabkan gangguan produksi enzim pencernaan, sehingga ingesta dalam usus tidak dapat tercerna dengan baik. Kondisi ini mempengaruhi tidak hanya motilitas normal pergerakan ingesta tetapi juga perkembangan mikroflora pencernaan. Akibatnya dapat terjadi overgrowth (pertumbuhan mikroflora berlebih) yang memicu diare. Gejala yang ditimbulkan diantaranya rasa sakit daerah abdomen, steatorrhea (feses berlemak), bobot badan menurun serta umumnya diare yang terjadi bersifat kronis dan tidak disertai dengan darah maupun mucus (lendir).

7.        Obstruksi saluran cerna

Obstruksi saluran cerna dapat disebabkan oleh adanya benda asing maupun penyempitan saluran cerna itu sendiri yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti torsio (perputaran) saluran cerna, intussuceptio (melipatnya bagian usus ke dalam bagian usus lain), abcess, tumor intestinal, maupun perlekatan saluran misalnya oleh karena trauma. Gejala yang ditimbulkan selain diare juga dapat disertai muntah, anoreksia (nafsu makan menurun), depresi serta sakit daerah abdomen.

Untuk tumor intestinal biasanya sering terjadi di daerah rectum dan terminal colon serta umumnya dijumpai pada anjing tua. Tumor itu sendiri memiliki bermacam tipe, namun yang paling ganas diantaranya adenocarcinoma dan lymphosarcoma. Gejala yang ditimbulkan seiring dengan perkembangan tumor, yaitu diare kronis, bobot badan menurun, nafsu makan rendah, muntah dan feses berwarna hitam (akibat darah yang bercampur dengan hcl lambung di saluran cerna).

8.        Inflammatory bowel disease (IBD)

Terjadinya IBD atau yang lebih dikenal dengan peradangan di saluran cerna diduga oleh adanya peranan berbagai faktor seperti nutrisi, bakteri, genetik dan sistem imun yang menyebabkan reaksi hypersensitif sehingga terjadi gangguan permeabilitas dan lesion (luka) jaringan mukosa dan akhirnya berdampak pada terjadinya diare kronis.  

Selain faktor penyebab, anda juga perlu mengenali durasi diare pada anjing yang dapat dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu diare yang bersifat akut dan kronis. Diare akut umumnya terjadi tiba-tiba dan berlangsung dalam durasi yang pendek hingga 1-2 minggu. Sedangkan bila diare terjadi secara persisten (lebih dari 3 minggu) atau memiliki sejarah berulang maka dapat dikategorikan sebagai diare kronis.

Saat anjing anda mengalami diare akut ringan namun kondisinya tetap lincah dengan nafsu makan yang baik dan tanpa disertai gejala klinis lain maka kemungkinan diare yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor diet. Meskipun demikian baik diare yang bersifat akut maupun kronis tetap memerlukan perhatian khusus bila disertai dengan adanya gejala lain seperti nafsu makan berkurang, muntah, demam, lemas, mukosa pucat, diare disertai adanya darah maupun lendir, rasa sakit pada bagian abdomen dan lain sebagainya. Pada kondisi ini sebaiknya anda segera memeriksakan hewan anda ke klinik hewan maupun dokter hewan setempat untuk mendapatkan penanganan segera dan pemeriksaan terhadap kemungkinan adanya penyakit yang serius.

 Kirim ke teman Versi cetak Beri Penilaian
Penilaian Saya:

Sebelumnya:

Alergi pada Makanan
Waspada Heat Stroke pada Anjing Anda
Scabies pada Hewan Peliharaan
Leptospirosis pada anjing
Serba Serbi Anjing Hamil

Selanjutnya:

Feline Infectious Peritonitis
Merawat Anjing Tua
Demodecosis Pada Anjing
Kulit dan Bulu Anjing yang Sehat
Ring Worm
 
 
 
      Kembali ke atas
Kembali ke atas
 
  Piet Klinik Hewan 24 Jam
Plaza Amsterdam C-18, Bukit Sentul Selatan
Sentul, Bogor - Indonesia
+62 21 8796 1199
+62 21 6854 5667
© 2009 - 2014 Piet Klinik Hewan 24 Jam
Developed by: AnjingKita.com